
Kelahiran saudara baru iaitu Peter Veana, 63 tahun, berasal dari
the Isle of Wight, Inggeris, adalah alumnus konvoi kemanusiaan Viva Palestina yang telah selamat masuk ke Gaza bulan Januari 2010 lalu, dan kini mengikut lagi dalam konvoi “Armada Kemerdekaan” menuju Gaza.
Peter mengucapkan Syahadat Ahad malam (23/5) di depan markas IHH (Insani Yardim Vakfi) sesudah mengikut solat maghrib berjamaah di Masjid Sultan Muhammad Al-Fatif. Karena itu, beberapa orang yang hadir langsung mengusulkan untuk memberi nama Islam kepadanya, Muhammad Fatih.
Pengucapan syahadat Peter dibimbing oleh Adnan, sahabatnya asal Pakistan yang bersama-sama dengannya saat ikut Konvoi Viva Palestina awal tahun ini. “Banyak rakan serombongan yang mengajak saya masuk Islam, tetapi Adnan yang paling bersungguh-sungguh,” kata Peter kepada Sahabat Al-Aqsha & Hidayatullah.com.
Banyak penjelasan tentang Isam yang beliau perolehi dari Adnan ketika menunggu kemasukan dari pemerintah Mesir dan Israel. Banyak yang telah beliau pelajari.
Pengucapan syahadah Peter di depan markas IHH disaksikan oleh Fahmi Bulent Yildirim yang bersama, di depan Peter dan kawan-kawan yang lain. Kerana saat itu kerumunan peserta kafilah semakin ramai, maka acara spontan menyambut Peter memeluk Islam menjadi semakin meriah.
Gemuruh teriakan takbir berkali-kali menyemarakkan jalan di depan markas IHH. Bendera-bendera Palestin dan Turki ikut menyaksikan. Seorang staf IHH berkeliling membawa juadah berisi camilan manis khas Turki, sambil mengumumkan ke
ISLAMan Peter.
Ketika ditanya kenapa perlu 4 bulan untuk meyakinkannya agar mengucap kalimat syahadah, Peter menjawab,
“Sejak tiba di Gaza saya mengalami pendalaman-pendalaman pemikiran yang sangat cepat.”“Bahkan,” lanjutnya,
“saya sudah sering ikut berwudu dan mengerjakan solat bersama kawan-kawan Muslim saya.”Menurut Peter (Muhammad Fatih), sejak berkenalan serius dengan Islam dalam konvoi ke Gaza 4 bulan yang lalu, pancainderanya seperti semakin sensitif merasakan perubahan-perubahan zaman.
“Ketika ini segala aspek kehidupan di Barat, dari mana saya berasal, sedang menuju kerosakan dan kehancuran. Lihat saja bagaimana Barat mendiamkan pembantaian terhadap Gaza,” jelasnya Fatih.
“Sedangkan Islam, di mata saya semakin terlihat keindahannya di segala aspek kehidupan.”Fatih bukan cuma berpikir dan berkata. Selama sebulan terakhir ia berkeliling di the Isle of Wight, menyampaikan kepada penduduk kota tempat tinggalnya itu, memutar film, berceramah, menyebar brosur dan mengumpulkan dana sebesar 20 ribu poundsterling untuk dibelikan semen ke Gaza.
Keesokan siangnya, sesudah ia bersyahadah, dan sesudah semalam suntuk di dalam bis dari Istanbul ke Antalya, Sahabat Al-Aqsha & Hidayatullah.com bertanya kepada Fatih, bagaimana rasanya bangun tadi pagi sebagai seorang Muslim?
“Saya merasa sedang berjalan semakin dekat kepada Allah, kepada kebenaran. Semua sekarang terlihat jelas…”Lalu seorang peserta kafilah dari Malaysia mendatangi Peter, memeluknya, seraya berkata,
“Peter, kamu sekarang lebih mulia dari kami, karena kami berlumuran dosa, sedangkan kamu bersih seperti bayi… Selamat, dan jangan lupa doakan kami.” [Laporan Dzikrullah, Santi Soekanto, Surya Fachrizal/hidayatullah.com]
Peter Veana (melihat ke arah kamera) kini Muhammad Fatih, beberapa saat sesudah bersyahadat di depan Markas IHH.
Bangsa Yahudi sangat terobsesi oleh kitab suci mereka, bahwa hanya merekalah satu-satunya bangsa yang dipilih oleh Tuhan untuk menguasai dunia ini. Mereka lalu berbuat banyak kerosakan-kerosakan di muka bumi dengan tujuan ingin menjadi penguasa dunia. Bahkan, mereka juga mengaku sebagai anak Tuhan.
Kerana keangkuhannya itulah, Allah menghukum bangsa Yahudi sehingga akhirnya menjadi warga negara kelas kambing yang tertindas di negeri Fir’aun (Mesir). Mereka juga diusir sebagai orang buangan oleh Nebukadnezar, bangsa Babilonia. Dijajah oleh Romawi. Dimusnahkan oleh Nazi, Jerman. Kesemuanya itu adalah hukuman Tuhan. Hukuman tersebut tidak membuat mereka serik, dan bertaubat. Malah menjadikan dendam kesumat dihati bangsa ini untuk melawan Tuhan, Allah Maha Pencipta.
Nabi Daud A.S, yang juga raja, menaklukkan bukit Zion yang merupakan benteng dari kaum Yabus. Nabi Daud AS tinggal di benteng itu dan diberinya nama: “bandar Daud”. Sejak itu Zion menjadi tempat suci dan dikeramatkan orang-orang Yahudi yang mereka percayai bahwa Tuhan tinggal di tempat itu.
Zionisme ialah gerakan orang-orang Yahudi yang bersifat ideologis untuk menetap di Palestina, yakni di bukit Zion dan sekitarnya. Walaupun Nabi Musa A.S tidak sampai pernah menginjakkan kaki beliau di sana, namun orang-orang Yahudi menganggap Nabi Musa AS adalah pemimpin pertama kaum Zionis.
Untuk mencapai cita-citanya, Zionisme membangkitkan fanatisme kebangsaan (keyahudian), keagamaan dengan mempergunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuannya. Zionisme menggunakan beberapa taktik dan tipu daya untuk mengurangi dan menghilangkan sama sekali penggunaan perkataan “Palestin”, yakni mengganti dengan perkataan-perkataan lain yang berkaitan dengan sejarah bangsa Yahudi di negeri itu. Digunakanlah nama “Israel” untuk negara yang telah didirikan oleh mereka, sebab Zionisme di Palestin suka dengan kekerasan, kezaliman dan kehancuran. Kaum Zionis mengambil nama Israel adalah untuk mengelabui dan menipu seluruh dunia, bahwa negara Israel itu tidak akan menggunakan cara-cara yang biasa digunakan oleh kaum Zionis. Pada hal dalam hakikatnya secara substansial tidaklah ada perbedaan sama sekali antara Israel dengan Zionisme. Israel sendiri berasal dari dua kata, isra mempunyai arti hamba, dan ell berarti Allah.
Setelah melalui proses yang amat panjang akhirnya pada 14 Mei 1948 yang lalu, kaum Yahudi mengistiharkan dirinya adalah negara Israel. Dengan kemerdekaan yang telah dicapai, cita-cita orang orang Yahudi yang tersebar di berbagai belahan dunia untuk mendirikan negara sendiri. Mereka berhasil melaksanakan “amanat” yang disampaikan Theodore Herzl dalam tulisannya Der Judenstaat (Negara Yahudi) sejak 1896.
Sejak awal Israel sudah tidak diterima kehadirannya di Palestin, bahkan di daerah mana pun mereka berada. Karena merasa memiliki keterikatan historis dengan Palestin, akhirnya mereka berramai - ramai datang ke Palestin. Kemasukan secara besar-besaran oleh kaum Yahudi ini terjadi sejak akhir tahun 1700-an. Akibat pengalaman pahit, maka mereka merasa harus mencari tempat yang aman untuk ditempati. Oleh itu Inggeris menawarkan untuk memilih kawasan Argentina, Uganda, atau Palestin untuk ditempati, tapi Herzl lebih memilih Palestin.
Herzl adalah The Founding Father of Zionism. Dia menggunakan zionisme sebagai kendaraan politiknya untuk merebut Palestin. Kemampuannya dalam melobi para penguasa dunia tidak diragukan lagi. Sederetan orang-orang terkenal di dunia seperti Paus Roma, Kaisar Wilhelm Jerman, Ratu Victoria Inggris, dan Sultan Turki di Istambul telah ditakluknya. Zionisme adalah otak dalam perebutan wilayah Palestin dan sekumpulan pembantaian yang dilakukan Yahudi.
Dengan kedatangan bangsa Yahudi ke Palestin secara besar-besaran, menyebabkan kemarahan besar penduduk Palestin. Gelombang pertama kemasukan Yahudi terjadi pada tahun 1882 hingga tahun 1903. Ketika itu sebanyak 25,000 orang Yahudi selamat dipindahkan ke Palestin. Ketika itu, mulalah terjadi perampasan tanah milik penduduk Palestin oleh pendatang Yahudi. Bentrokan pun tidak dapat dapat dihindari. Kemudian gelombang kedua pun berlanjut pada tahun 1904 hingga 1914. Pada masa inilah, perlawanan sporadis bangsa Palestin mulai merebak.
Pada tahun 1947, setelah mendapat mandat dari Inggeris keatas Palestin berakhir dan PBB mengambil alih kekuasaan. Resolusi DK PBB No. 181 (II) tanggal 29 November 1947 telah menjadikan Palestin menjadi tiga bahagian. Peristiwa ini mendapat halangan keras dari penduduk Palestin. Mereka melakukan demonstrasi besar-besaran bagi menentang Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) ini. Lain halnya yang dilakukan dengan bangsa Yahudi. Dengan suka cita mereka mengadakan perayaan atas kemenangan besar ini.
Tahun 1956, Gurun Sinai dan Jalur Gaza telah dikuasai oleh Israel, setelah gerakan Islam di kawasan Arab dizalimi dan para pejuang Islam yang terlibat dalam peperangan dengan Yahudi di Palestin dihukum mati oleh rezim Mesir.